Bagaimana Mencuri Hati Seseorang

Malam itu turun hujan pertama di Januari 1986, aku masih berjalan santai menuju sebuah kedai di ujung jalan Tremont. Aku melepas topi dan mantelku yang basah sebelum memasuki kedai, seraya berjalan masuk mataku tertuju pada seorang wanita yang duduk sendirian di kursi tinggi meja counter. Aku mengenalnya, itu Ms. Anna. Aku sering melihatnya di halaman sekolah yang sering ku lewati, aku tau namanya kekita seorang murid memanggilnya. Menurutku dia wanita yang cukup baik dan lemah lembut, terlihat sangat dekat dengan semua murid-muridnya, dia juga sering terlihat membantu membawa barang-barang yang dibawa oleh ibu penjaga kantin.

Aku berjalan ke arahnya dan duduk setengah meter di sisi kanannya tanpa menyapa, karena dia terlihat tenggelam dengan pikirannya sendiri, hanya menatap lurus kedepan, dihadapannya hanya ada satu cangkir kopi yang masih utuh dan kurasa sudah dingin. Lalu aku memesan satu gelas bir untuk sekedar menghangatkan badan. Hujan yang turun saat musim dingin memang menyebalkan, basah dan dingin. Ketika minumanku datang, aku langsung meminumnya setengah dan mulai larut dalam pikiranku. Senyuman manis gadis itu mulai memenuhi pikiranku lagi, senyuman yang berhasil menarik seluruh perhatianku, namun sayang sekali aku tak bisa mencuri hatinya. Hati gadis yang ku sayangi sulit sekali mendapatkannya, mencuri perhatiannya saja sulit, bahkan aku tak yakin dia menyadari keberadaanku. Kisah cintaku yang menyedihkan. Aku menghembuskan napas dengan berat penuh dengan rasa putus asa. 

"Ada keluhan?" suara wanita itu menarik diriku keluar dari lamuan. Butuh waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa wanita itu tersenyum kepadaku dan mulai mengajakku berbicara. Aku melihat ke arahnya dan membalasnya dengan senyuman.


"Keluhan?" tanyanya lagi.


"Ah, yaa . . . hanya kisah cintaku yang menyedihkan.


"Hmm . . ."


"Aku menyukai seorang gadis tapi dia bahkan seperti tidak menyadari kehadiranku. Apa kau tau bagaimana mencuri hatinya?" pertanyaanku bahkan terdengar lebih menyedihkan.


"Bagaimana mencuri hati seseorang? Kau hanya perlu menculiknya, bawa ia ke dokter bedah, lalu paksa dokter itu dengan sebuah pistol untuk membedahnya, lalu kau bisa mengambil hatinya." jawaban wanita itu membuatku tercekat.

Aku tak percaya dengan apa yang ku dengar, wanita itu bicara dengan suara dan wajah yang tenang, setelahnya dia seperti menyeringai. Seketika itu jantungku berdegup sangat kencang, dan merasa sangat tidak nyaman. Aku mengambil topi dan mantelku yang tadi kuletakkan di kursi di sampingku.


"Kau mau melakukannya sekarang?' tanya wanita itu ketika melihatku bersiap untuk pergi.


"Ah, a . . . Aku baru ingat ibuku menyuruhku untuk pulang cepat, dia pasti sedang menungguku." jawabku asal. Dengan perasaanku yang tiba-tiba gelisah, ku percepat langkahku menuju rumah.


Di rumah aku menunggu ibuku hingga larut, aneh dia tidak pernah pergi hingga selarut ini sebelumnya. Maka aku menunggunya hingga tertidur di sofa. Paginya aku mendapat kabar dari rumah sakit, mengabarkan kematian ibuku. Sesampainya aku di rumah sakit seorang dokter menemuiku dan menjelaskan bahwa mayat ibuku ditemukan di sebuah klinik bersama mayat seorang dokter bedah dengan luka tembak di kepalanya. Kondisi ibuku sudah tidak lengkap, organ hatinya telah diambil dan tidak ditemukan dimanapun. Pelaku yang menembak dokter dan yang membawa organ hati itupun tidak diketahui dan belum tertangkap. Anehnya setelah kabar kematian ibuku, aku tidak pernah lagi melihat Ms. Anna dimanapun, tidak di kedai, juga tidak di sekolah. 

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca, besok baca-baca di sini lagi, yaa..
Semoga harimu menyenangkan. (^.^)/

Diberdayakan oleh Blogger.