Meracau

16.46
Saya baru saja tiba di rumah sehabis jalan-jalan di tanah Pasundan, Bandung. Tapi bukannya merasa tenang dan fresh saya malah merasa sangat gelisah dan sedikit merasa bersalah. Pikiran saya meracau, dengan segala hal yang dipermasalahkan batin dan pikiran saya, bukan sesuatu yang besar juga bukan sesuatu yang penting, karena saya bukan siapa-siapa, saya hanya gadis cengeng yang egois.

Di sore itu sehari sebelum hari raya Idul Adha, ketika saya sedang melepas sepatu untuk memasuki Masjid Raya Bandung, tidak sengaja saya mendengar seorang bapak yang sedang berbicara dengan seseorang lewat handphonenya, kata-katanya seperti menyentil saya, begini kata-katanya yang saya dengar, “Maaf ya, bapak gak bisa pulang, gak punya ongkos buat pulang . . .” kata-katanya langsung masuk dan berputar-putar di kepala saya. Ada seorang bapak yang tidak bisa pulang berkumpul dengan keluarganya di hari lebaran karena tidak punya uang untuk ongkos pulang, lalu apa yang saya lakukan? Saya malah menghabiskan uang saya untuk “melarikan diri” ke Bandung, menjauh dari keluarga saya. Tiba-tiba perasaan melankolis menyergap diri saya.

Perjalanan santai saya ke Bandung menyenangkan tentunya, tapi rasanya seperti perjalanan penuh sejarah dan penuh perjuangan. Mungkin terpengaruh dengan suasana cerita buku yang saya baca selama perjalanan. Saya sedang membaca e-book yang saya pinjam di I-Jak (perpustakaan digital milik pemerintah DKI Jakarta) yang tadinya saya lakukan untuk memenuhi tantangan dari good readers Indonesia, selain memang sudah lama saya sangat ingin membaca buku itu, e-book yang saya pinjam berjudul "Soe Hok-Gie . . . Sekali Lagi". Karena waktu peminjaman yang singkat sedangkan halaman yang harus saya selesaikan ada kurang lebih 553 halaman dalam waktu tiga hari, maka saya paksakan untuk mencicil membaca di tengah-tengah kegiatan saya jalan-jalan di Bandung. Bahkan sampai saat ini pun belum selesai saya baca dan segera saya perpanjang waktu pinjamnya.

Bukan bermaksud untuk mendramatisasi, tapi kisah di e-book itu benar-benar menyita perhatian saya, kisah seorang aktivis mahasiswa yang mati muda. Saya heran, kenapa saya tertarik membaca hal-hal terkait politik dan sejarah seperti itu, tidak ada rasa bosan malah rasanya ingin tahu lebih banyak. Ah, tapi tidak, saya tidak mengerti dan tidak peduli dengan politik, juga tidak tertarik dengan sejarahnya, hanya karena ada sosok Soe Hok Gie, maka saya tertarik untuk membacanya.

Sejak dua tahun lalu saya mendengar nama Soe Hok Gie dari seseorang yang terpaksa mengobrol dengan saya ketika dalam perjalanan pertama saya mendaki gunung. Awalnya tidak terlalu penasaran dengan namanya tapi setelah menonton filmnya berjudul "Gie" baru rasa ketertarikan itu muncul. Entah mengapa semua kisah tentang dirinya begitu menarik dan ketika membaca kisahnya seperti memancing pikiran saya untuk memikirkan banyak hal, seperti saat ini. Semua yang terlintas dalam pikiran saya begitu mengganggu karena tidak fokus dan rasanya seperti mengambang, rasanya ingin membicarakannya pada seseorang supaya tidak lagi melayang-melayang di kepala saya.

Kekaguman saya terhadap sosoknya yang katanya idealis murni dan perjuangannya menegakkan keadilan, sosok patriot sejati yang sempurna. Tapi saya lebih tertarik dengan sisi kemanusiaannya, dengan sikap-sikap dalam kehidupannya, terlebih dirinya juga suka mendaki gunung, kegiatan yang saat itu dan sampai sekarang menjadi kegiatan paling menyenangkan buat saya.

Saya iri dengan orang-orang seperti itu, iri dengan pikiran dan perhatian mereka yang luas, tidak seperti saya yang hanya memikirkan diri sendiri, dan pura-pura sibuk dengan segala sesuatu yang saya lakukan padahal tidak terlalu penting dan berguna. Saya iri dengan sikap Soe Hok Gie yang menurut teman-temannya adalah orang yang sangat perhatian, semua teman-temannya baik laki-laki atau perempuan sangat senang berada di dekatnya karena merasa mendapat perhatian yang besar dari dirinya. Saya terheran-heran bagaimana Soe Hok Gie membagi waktunya dan perhatiannya antara kuliah, permasalahan ekonomi dan politik saat itu, hobi-hobinya, keluarga dan teman-temannya. Sedangkan saya hanya sibuk dengan diri dan dunia saya sendiri tidak peduli dengan yang lainnya apalagi masalah politik negeri ini yang tidak saya mengerti, pun saya masih mengeluh ingin waktu untuk diri saya sendiri.

Saya pikir-pikir mereka yang telah beteman dekat dengan Soe Hok Gie adalah orang-orang yang beruntung, dengan segala pemikirannya yang kritis, pengetahuannya yang luas dan sikap baiknya memberi perhatian sama penuhnya kepada semua teman-temannya, saya juga ingin dekat dengan sosok seperti Soe Hok Gie, atau kalau bisa memiliki rasa, pemikiran dan sikap kemanusiaan seperti dirinya. Sebelumnya tidak ada yang saya pikirkan selain tentang diri saya sendiri, apa yang telah saya lalui, apa yang sedang saya lakukan saat ini, dan akan seperti apa masa depan saya. Hingga setidaknya dua tahun terakhir perlahan-lahan saya membuka diri dan mulai memperhatikan sekeliling saya, belajar memberikan perhatian saya kepada teman-teman dan keluarga. Dan dua tahun terakhir ini setidaknya ada dua orang yang benar-benar menyita perhatian saya.

Dimulai dari dua tahun yang lalu saya mengenal seseorang yang secara tidak langsung mengubah cara pikir dan cara menilai orang lain, juga beberapa aspek kehidupan saya. Seseorang yang sebelumnya sama sekali tidak saya kenal dan belum pernah saya temui, tapi hanya dalam waktu empat hari perjalanan mendaki gunung berhasil menerobos masuk ke dalam kehidupan saya. Seseorang yang menunjukkan rasa peduli dan tidak ragu menolong saya yang akhirnya saya ijinkan untuk masuk dan berperan dalam kehidupan saya. Seseorang yang saya rasakan ketulusannya memberi perhatian, nasehat, dan dengan senang hati membagi ilmu, pengalaman, cerita-cerita menarik, serta canda gurau dengan saya. Pelan-pelan saya mulai semangat berusaha untuk membentuk pribadi yang baik, juga mulai membuka diri untuk menerima orang lain dalam kehidupan yang selama bertahun-tahun seperti terisolasi.

Lalu kurang dari setahun terakhir datang seseorang yang tidak saya sangka juga menerobos batas interaksi sosial yang saya buat, menyita perhatian saya dan membuat saya sibuk sebagai tour guide dadakan. Sosoknya begitu menyegarkan dalam kehidupan saya, memberi saya sudut pandang baru dalam suatu hal, sama seperti ketika saya mengenal nama Soe Hok Gie, membuat saya antusias menyelami pikiran saya lebih dalam dan memancing saya mengungkapkannya. Meskipun belum sepenuhnya saya berhasil memperbaiki hal-hal yang kurang baik dalam kehidupan saya, namun saya sangat bersyukur dijinkan dan diberi kesempatan bertemu dan mengenal lebih dekat dengan mereka berdua. Beruntung walau dengan sifat-sifat buruk dan sikap cuek saya yang sangat menyebalkan, mereka tetap ada di sana, tidak sembunyi seperti yang lain. Sangat menyenangkan saat-saat bisa mengobrol banyak dengan mereka, bertukar pikiran membicarakan kehidupan yang begini-begini saja, entah kenapa dengan mereka membicarakan hal-hal itu menjadi sangat menarik.

Saya berusaha untuk mengurangi ego dan gengsi saya, biar bagaimanapun jarang sekali saya mengungkapkan apa yang saya rasakan dan pikirkan, bahkan saya sendiri kadang tidak mengerti. Kalau tidak saya tulis seperti ini mana mungkin mereka tahu apa yang saya sebenarnya rasakan, gengsi saya masih terlalu tinggi untuk menyampaikannya langsung, biarlah tulisan ini menjadi perantara. Sebenarnya saya sedang ingin terlibat obrolan panjang yang mendalam dengan mereka, tapi akhirnya saya tuliskan saja, saya sedang ingin banyak menulis.

Kegiatan mendaki gunung juga saya rasakan turut mempengaruhi kehidupan saya, bertemu langsung dengan orang-orang yang memiliki jiwa pemimpin yang cukup baik, membuka pandangan saya bahwa ada banyak hal yang perlu saya perhatikan, bahwa dunia ini tidak hanya seputar kehidupan saya dan keluarga saya saja, bahwa ada masalah yang sudah seharusnya saya turut serta mencarikan solusinya. Tapi semuanya masih berputar-putar tidak karuan di pikiran saya.

Awalnya memang saya hanya ikut-ikutan teman mendaki gunung, namun setelah melewati perjalanan penuh perjuangan yang luar biasa menyiksa itu, membuat saya merasa perjalanan mendaki selanjutnya adalah hal yang saya butuhkan sebagai bentuk “meditasi”. Semuanya bentuk penyiksaan diri ketika mendaki seperti, berjalan kaki berkilo-kilo meter seharian sambil menggendong tas yang beratnya lebih dari tiga kg, menahan rasa kantuk, haus dan lapar, kedinginan sampai ketulang-tulang di malam hari, semuanya menjadi sangat menyenangkan. Sehingga saya sedih dan kecewa ketika orang tua saya mulai menasehati saya untuk tidak naik gunung lagi, saya mengerti bahwa kegiatan naik gunung bukanlah kegiatan main-main, ada nyawa yang dipertaruhkan disetiap perjalanan mendaki gunung, saya mengerti perasaan ibu saya yang was-was ketika saya pamit untuk naik gunung, memikirkan saya sepanjang hari dan sampai tidak bisa tidur di malam hari terus berdoa dan berharap saya baik-baik saja dan akan pulang dengan selamat.

Tapi inilah yang saya pilih, menikmati perjalanan naik gunung yang menyiksa daripada perjalanan lainnya. Saya merasa tidak cocok melakukan traveling santai seperti yang teman-teman saya lakukan, sekedar mendatangi tempat-tempat yang sedang ramai dibicarakan lalu berfoto sebagai bukti otentik telah menginjakkan kaki di tempat itu. Memang ada sedikit perasaan untuk mengunjungi tempat-tempat itu, juga saya coba lakukan seperti yang teman saya lakukan itu, namun tak ada rasa kepuasan yang sama seperti yang saya rasakan ketika sedang mendaki gunung juga setelahnya. Saya senang mendaki gunung karena saya mendapatkan saat-saat sepi untuk mulai sibuk dengan pikiran saya sendiri, saya bisa benar-benar jauh dengan internet dan smarphone, lalu kalau tidak ada pikiran yang memenuhi kepala, saya mulai memperhatikan temen-teman seperjalanan berbagi cerita, tawa dan canda, bersusah payah bersama melewati jalur terjal, saling membantu dan saling menjaga, saya mendapatkan perasaan hangat yang menenangkan.

Anehnya saya merasa sederhana ketika mendaki gunung, tidur di tenda dengan segala keterbatasannya, makan makanan yang juga terbatas yang dibawa rombongan saat itu. Padahal kegiatan mendaki gunung saat ini tidak lagi sesederhana jaman dahulu, jika jaman dahulu dengan dana terbatas dan perlengkapan yang minim sudah bisa menenangkan diri pergi ke gunung. Saat ini mendaki gunung sudah termasuk kegiatan yang mahal, sudah jauh dari kata sederhana. Tapi menurut saya itu tergantung tiap individu, ingin membuat kegiatan mendaki gunung suatu perjalanan yang sederhana atau tidak.


Akhirnya panjang lebar saya menulis tidak jelas maksud dan tujuannya apa, inilah sebagian yang berputar-putar di pikiran saya, meminta untuk dibicarakan satu per satu.

6 komentar:

  1. Jalan-jalan kesini cuma mau bilang kalo, saya juga kangen nanjak._.

    BalasHapus
  2. Soe Hok Gie itu memang keren kak.
    Gie juga meninggal dalam pendakiannya.

    Anyway, udah baca bukunya juga nggak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. belom, baru baca yang "soe hok gie sekali lagi", kumpulan tulisan orang-orang terdekatnya tentang dirinya

      Hapus
  3. *Mumpung sempet komentar, sini tak kritiki biar geli*

    Percobaan menggunakan kata "Saya" nya udah tepat kok, Wi. Mungkin pas ngetiknya berasa kaku, tapi bagi yang baca nyaman-nyaman aja kok.

    Itu yang kejadian bapak-bapak, bikin hati iba. Sering banget dialami rangorang. Saat ada acara keluarga di rumah ketika hari raya, malah lebih milih pergi jalan-jalan ama orang lain. :( Tapi berharganya kehidupan. Kalo kata Soe Hok Gie, "...Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.."

    Kalo kata juri stenap komidi, sebelum masuk ke materi berikutnya, mestinya dibikin bridge biar nyambung. Tapi kayaknya pas bagian mau mulai ngomongin Soe Hok Gie nya, kayaknya bridge yg dibikin "terlalu gede" deh, Wi. Tapi kan judul artikelnya meracau, yak... jadi ya gak apa-apa juga sih. xD

    Kalo kamu iri dengan mereka yg bisa terus peduli meski tersakiti, aku malah iri denganmu, Wi, yang bisa cuek fokus pada diri sehingga meminimkan beban hati. :( dan lagi... kamu itu sosok yang peduli, loh. Setidaknya pada orang yg gapunya kartu buat naik Transjakarta (aku dan bapak2 kala itu). xD

    Awalnya kupikir kamu malah bukan seorang introvert loh, Wi. Gegara sering baca di blog tentang banyak kegiatan dan perjalanan ama temen2mu. Kan masa iya seorang introvert betah bepergian ke mana-mana dan rame-rame gitu. xD

    Itu seseorang yang mengubah cara berpikirmu, masih rutin dikunjungi tiap wiken, Wi? :D

    Ya ampun, apa-apaan itu orang... dateng-dateng mendadak malah ngejadiin org lain sebagai tour guide. kalo ketemu lagi, jitakin aja itu, Wi.

    Walo aku belom pernah naik gunung yang sesungguhnya, baru sebatas bukit. tapi saat naik gunung emang beneran bisa liat karakter orang2 sih. yang egois, lah. yang emosian lah. yang sabar. yang perhatian. padahal cuma bukit.

    Lagian, bagi pengagum Soe Hok GIe, yang jelas tersisa darinya dan bebas dilakukan ya naik gunung itu. mau orasi dan demo besar2an udah gak dianggep. karena para penguasa tau, apa yg diteriakan hanyalah ungkapan ngerasa susah aja. gak ada hal yg bisa merusak kedudukan mereka. beda di zaman GIe, yang mana tiap ucapan para demonstran berarti pengungkapan misteri kejahatan mereka. Jadi.. yaudah, yang rajin naik gunungnya. Setidaknya, walo gak berperan dalam perbaikan politik dalam negeri, tapi sudah ikut memperbanyak jumlah orang yang tenang jiwa raga serta peduli sesama di negeri ini~



    Waaa... komenku panjang banget. Padahal bukan orang deket, tapi malah banyak komentar. Kuberasa jadi Dementor. Tapi nggak apa, ya... kan kamu tau cara ngusir Dementornya~

    "Patronus, Expecto Patronum!"

    *kabur*

    BalasHapus
    Balasan
    1. whoa.. bikin postingan sendiri gih, kak XD

      Terima kasih atas waktunya, kak ^^
      bukan dementor lah, mungkin remembrall tepatnya, hehe

      Hapus

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca, besok baca-baca di sini lagi, yaa..
Semoga harimu menyenangkan. (^.^)/

Diberdayakan oleh Blogger.