Sebuah Ritus

22.02
"Apa kabar?"

Entah sudah berapa kali gue mendapat pertanyaan itu, mungkin ratusan atau ribuan kali. Ah, gak mungkin juga sampai ribuan, hanya beberapa orang aja yang menanyakan pertanyaan itu ke gue pun jarang sekali, mungkin gak sampai lima ratus kali. Ya... terserahlah gue gak peduli mau berapa kali, yang jelas sampai saat ini gue belum menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.

Ketika ditanya "apa kabar?" sama seseorang gue selalu berpikir, apakah orang ini benar-benar ingin tau kabar keadaan gue atau hanya untuk basa-basi pembuka percakapan, atau benar-benar basa-basi karena gak tau mau bicara apa? Apakah gue harus menjawabnya dengan jujur memberi tau keadaan gue atau jawaban sekenanya, atau malah gak perlu gue jawab? 

Seperti kata mbah Sujiwo Tejo dalam bukunya Rahvayana,

. . . bahwa sejatinya "apa kabar?" adalah pertanyaan yang paling sulit dijawab, kecuali jawabanmu cuma untuk berbasa-basi juga. Sinta, maka aku tak ingin membebanimu dengan pertanyaan yang paling sulit dan pelik.

Dengan istilah "basa-basi" bukan maksudku menganggap berat sekaligus mencibir pertanyaan "apa kabar?". Hidupku urakan. Kacau balau. Sering tak kuanggap penting segala bentuk tata cara dan upacara termasuk tegur sapa "apa kabar?". Tapi, setelah kupikir-pikir tanpa ritus semacam ini betapa membingungkannya hubungan manusia. Anak-anak kita kelak akan tak tahu bagaimana harus memulai percakapan dengan anak-anak lain yang sepantaran. Tak ada pedoman umum. Tak ada kepastian tata nilai.

Aku tak tahu apa makna semula dari pertanyaan "apa kabar?", Sinta. Bisa jadi sekarang sudah bergeser pengertiannya. Tapi, yang jelas, ritus itu tetaplah ritus.

Tak heran jika mbah Sujiwo Tejo disebut "seniman gila" bahkan sebuah pertanyaan "apa kabar?" itu sangat mengganggu dirinya, yang juga sedikit mengganggu gue. Memang benar ini sudah menjadi ritus, tata cara manusia untuk memulai bersosialisasi. Makanya walaupun merasa terganggu gue juga pernah menggunakan pertanyaan itu, baik untuk memang ingin tau keadaan atau hanya sekedar membalas basa-basi yang mereka mulai.

Seolah ada pro dan kontra dalam pikiran gue ketika gue menggunakan pertanyaan itu, di satu sisi gue gak mau basa-basi seperti itu tapi di sisi lain gue gak tau bagaimana memulainya. Begitu juga ketika gue mendapat pertanyaan itu, jawaban apa yang mereka inginkan dengan memberi pertanyaan semacam itu? jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan itu? apakah gue harus benar-benar menjawabnya?

Serumit itu. Iya. 
Kadang gue tak acuhkan pertanyaan "apa kabar?" itu, kadang gue jawab sekenanya yang sekiranya tidak menimbulkan pertanyaan lain, kadang gue protes kenapa orang itu harus memulai percakapan atau basa-basi dengan pertanyaan "apa kabar?".

Jadi, benar ya, basa-basi sudah menjadi ritus, sudah menjadi tata cara memulai berkomunikasi. Katanya basa-basi itu untuk mencairkan suasana agar gak canggung, katanya juga gak sopan kalau tiba-tiba langsung membicarakan inti tanpa basa-basi terlebih dahulu. Jadi selama ini gue gak sopan, ya, karena seringnya gak berbasa-basi terlebih dahulu, langsung pada inti yang mengesankan terburu-buru, egois dan membuat kecanggungan. Gak sopan. 

Ya sudahlah . . .
Ritus "apa kabar?" tetaplah ritus. Sekeras apapun gue mempermasalahkannya tak akan bisa mengubah ritus yang memang sudah ditetapkan terlebih dahulu entah sejak kapan.

Lalu apa sebaiknya gue mengikutinya agar bisa diterima dengan mudah oleh kehidupan sosial, agar sesuai dengan tata cara sopan santun, ya?

4 komentar:

  1. Longtime no see..
    Makin keren ya "rumah"nya sekarang.
    Its nice to come here, again. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi (^.^)/
      Thank you.
      Then I welcome you back into my unpretentious home :D

      Hapus
  2. Mungkin memang jadi ritus. Tapi menurutku, pertanyaan apa kabar itu perlu, walo nggak harus. Seperti karna lama nggak bertemu, atau bertemu tapi keadaan org yg ditanya terlihat lemah. menanyakan apa kabar bukan berarti yg bertanya ingin tau, tapi sering juga mau ngingetin agar yg ditanya melihat keadaan dirinya. karna banyak org yg sering banget memaksakan tubuh melebihi batas. dgn menanyakan kabar, diharapkan dia melihat dirinya lagi. memperhatikan keadaan dirinya lagi. tapi hanya aku sih yg menganggap begitu.

    Lalu, gimana kabarmu, Wi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm... pertanyaan untuk mengingatkan, ya.
      Kalo diingat-ingat memang ada beberapa pertanyaan basa-basi yang tujuannya seperti menyadarkan.

      Kabarku baik, kak.
      (Jawaban formalitas, hahaha)

      Hapus

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca, besok baca-baca di sini lagi, yaa..
Semoga harimu menyenangkan. (^.^)/

Diberdayakan oleh Blogger.